Pedoman Imam Syafi’i dalam Beragama

Pedoman Imam Syafi’i dalam Beragama – Sesungguhnya pedoman hukum dalam beragama adalah Al-Qur’an, hadits shahih, dan ijma’ para ulama. Sebagaimana Allah SWT telah berfirman :

imam syafi'i“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’ [4]:59)

Imam Abdul Aziz al-Kinani berkata, “Tidak ada perselisihan di kalangan orang yang beriman dan berilmu bahwa maksud mengembalikan kepada Allah SWT adalah kepada kitab-Nya dan maksud mengembalikan kepada Rasulullah SAW setelah beliau wafat adalah kepada sunnah beliau.” Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali orang-orang yang menyimpang dan tersesat. Penafsiran seperti yang kami sebutkan tadi telah dinukil dari Ibnu Abbas dan sejumlah para imam yang berilmu. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Para ulama salaf dan khalaf telah bersepakat bahwa maksud mengembalikan kepada Allah SWT adalah kepada kitab-Nya (Al-Qur’an) dan kepada Rasul-Nya di waktu masih hidup dan kepada sunnah beliau ketika beliau sudah wafat.”

“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’ [4]:115)

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan umatku bersepakat dalam kesesatan.”

Dan inilah yang dijadikan landasan oleh Imam Syafi’i juga sebagaimana beliau tegaskan dalam banyak ucapannya, di antaranya adalah sebagai berikut :

Imam Syafi’i berkata, “Allah tidak memberikan kesempatan bagi seorang pun selain Rasulullah untuk berbicara soal agama kecuali berdasarkan ilmu yang telah ada sebelumnya, yaitu Kitab, Sunnah, ijma’, atsar sahabat dan qiyas (analogi) yang telah kujelaskan maksudnya.” Imam Syafi’i berkata, “Setiap orang yang berbicara berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah maka dia sungguh-sungguh. Adapun selain keduannya maka dia mengigau.” Imam Syafi’i berkata, “Sungguh Allah menjadikan al-haq (kebenaran) berada di dalam al-Kitab dan Sunnah Nabi-Nya.”

Imam Syafi’i berkata, “Barang siapa berpendapat sesuai dengan jama’ah kaum muslimin maka berarti dia berpegang kepada jama’ah mereka, dan barang siapa yang menyelisihi jama’ah kaum muslimin maka dia menyelisihi jama’ah yang dia diperintahkan untuk mengikutinya. Sesungguhnya kesalahan itu ada dalam perpecahan, adapun jama’ah tidak mungkin semuanya bersatu menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, dan qiyas insya Allah. “

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...


Laki-laki dengan cita-cita ingin menjadi seorang IT Professional dan ingin jadi dosen di ITS. Dia merasa beruntung di kelilingi keluarga yang baik dan sahabat-sahabat yang luar biasa.


Related Posts

No comments.

Leave a Reply